4 Hal yang Membuat Rasa Sombong itu Muncul. Berhati-hatilah!

4 Hal yang Membuat Rasa Sombong

4 Hal yang Membuat Rasa Sombong.

Manusia, memang tak ada yang sempurna. Karena, se-sempurna apapun manusia, ia masih tetap menjadi manusia dengan segala kelemahan, kebodohan, serta keangkuhannya yang tak pernah hilang.

Entah manusia itu good looking, kaya, sukses, keluarganya harmonis, dan di mata manusia lain dirinya merupakan orang yang terlahir sempurna, namun tetap saja ia memiliki kelemahan.

Dan kelemahan manusia yang hampir semua —bahkan mungkin seluruh— manusia miliki adalah, unsur syaithan yang melekat dalam tubuhnya.  Salah satunya adalah sifat sombong.

Kita semua mengetahui bahwa kesombongan merupakan perbuatan tercela. Perbuatan yang perlahan mengikis amal baik dan pahala kita.

Namun tak dapat dipungkiri, kesombongan itu masih saja ada dalam diri kita. Tumbuh subur, dan terkadang tak ada niat untuk melawannya.

Sifat sombong itulah yang telah membuat iblis diusir dari surga, dihinakan dan mendapatkan murka dari Allah Azza wa Jalla.

Meski kesombongannya hanya sebatas berkata “aku lebih baik darinya (Adam a.s),” namun sanggup membuatnya menerima murka Allah ta’ala.

4 Hal yang Membuat Rasa Sombong
4 Hal yang Membuat Rasa Sombong

Ada sekurang-kurangnya 4 hal yang membuat rasa sombong itu muncul, yakni;

1. Ziyaadatul Maal

Penyebab sifat sombong yang pertama adalah ziyaadatul maal, bertambahnya harta.

Memang tak bisa dipungkiri, mereka yang hartanya bertambah cenderung kehilangan rendah hatinya dan muncul kesombongannya.

Tak jarang mereka jadi lebih mudah menghina tetangga, membanggakan kekayaannya yang sebenarnya hanya titipan sementara.

Bertambahnya harta membuatnya lupa akan niat dan perilaku baik yang selama ini dijaga. Membuatnya merasa seolah-olah dunia telah berada di pelukannya. Dapat melakukan apapun yang menurutnya mampu membuat bahagia.

Bahkan tak jarang melakukan hal-hal yang tak sewajarnya. Seperti membeli barang yang sebenarnya tak mereka butuhkan, memamerkan harta benda yang mereka dapatkan. Hingga boros dan mubazir tampak jadi seperti keseharian.

2. Ziyaadatul Manshib.

Penyebab yang kedua adalah ziyaadatul manshib, bertambah/naiknya kedudukan.

Kedudukan tinggi merupakan idaman setiap orang, baik dalam pekerjaan maupun lingkungan. Karena biasanya kedudukan yang tinggi berarti gaji yang ikut bertambah banyak, serta dihormati mereka yang berkedudukan lebih rendah.

Hanya saja, semakin tinggi kedudukan seseorang, seringkali kesombongannya juga semakin tinggi. Semakin bisa semena-mena terhadap orang lain karena merasa dirinya pantas berbuat demikian.  Semakin gila jabatan dan gila akan penghormatan.

Cenderung menyepelekan pekerja yang berada di bawahnya dan ada juga yang sampai tak sudi jika diminta membantu pekerjaan mereka.

Padahal, hal tersebut sangat berbahaya bagi kemajuan diri dan lingkungannya.

3. Ziyaadatul ‘Ilmi.

Penyebab sifat sombong yang ketiga adalah ziyaadatul ‘ilmi, bertambahnya ilmu.

Seseorang yang bertambah ilmunya, luas wawasan dan pengetahuannya juga tak bisa terlepas dari sifat sombong.

Mereka akan menganggap remeh orang yang berada di bawah tingkatan ilmunya, dan mereka yang belum belajar. Padahal, belum tentu yang dihinakan dan diremehkan itu lebih hina dan lebih remeh dari dirinya.

Umar bin Khattab r.a berkata “Ilmu itu ada tiga tahapan/tingkat. Jika seseorang memasuki tahapan pertama, ia akan sombong. Jika ia memasuki tahapan kedua, ia akan tawadhu’ (rendah hati). Dan jika ia memasuki tahapan ketiga, ia akan merasa dirinya tidak memiliki apa-apa.”

Mereka yang mendapatkan ilmu baru, maka akan masuk tahap pertama dan merasa sombong. Merasa bahwa dirinya mengetahui segalanya.

Merasa bahwa jika ada yang bertanya, dia lah yang paling benar dan paling pantas menjawabnya.

Merasa bahwa ilmu yang dimilikinya lebih dari yang orang lain punya.

4. Ziyaadatul Tha’ah

Penyebab yang keempat adalah ziyaadatul tha’ah, bertambahnya ketaatan.

Bertambah taat bukan berarti semakin jauh dari kesombongan. Mereka masih tetap berpotensi terkena penyakit sombong atau takabbur. Pasalnya, semakin tinggi ketaatan, semakin gencar pula syaithan akan menyesatkan dan mengelabuhinya.

Memunculkan sifat sombong yang perlahan akan menghapus amal ikhlasnya yang membuat amal ibadahnya menjadi sia-sia.

Tak jarang setelah seseorang bertadarus, mereka akan merasa bangga, lega. Dan ketika melihat orang yang masih tertatih membaca Alqur’an, hati mereka secara spontan menertawakan dan mengejeknya. Mengasihani keadaan orang itu.

Padahal, tanpa disadari, itulah yang menyebabkan amalnya akan terkikis. Membuat pahala ibadahnya perlahan habis.

Karena sesungguhnya, amal ibadah kita hanya Allah yang mengetahui setinggi apa ketaatan dan keikhlasannya. Keikhlasan dan ketaatan tak bisa diukur melalui mata.

Bisa saja kita yang terlihat taat, ternyata kalah dengan mereka yang kita anggap ahli maksiat namun sebenarnya di malam hari mereka selalu bermunajat.

Menahan diri dari sifat sombong memang tak mudah. Namun membiarkannya menguasai hati kita merupakan pilihan yang salah.

Mari sama-sama bentengi diri agar tak lagi kalah dengan bisikan-bisikan kesombongan yang diam-diam merugikan.