Banjir Besar Menenggelamkan Sebagian Besar Kalimantan Selatan, Jalan Terputus

Banjir Besar Kalimantan. Martapura, Kalimantan Selatan – Banjir hebat menenggelamkan hampir seluruh wilayah Kalimantan Selatan pada Kamis (14 Jan 2021), dua jembatan roboh yang menyebabkan jalan terputus. Banjir juga menyebabkan listrik padam, air ledeng berhenti, internet mati, dan seorang anak meninggal.

Jalan nasional yang menghubungkan kabupaten (daerah hulu atau Hulu Sungai) dan kota-kota di provinsi tersebut terputus setelah bagian oprit Jembatan Astambul-Mataraman di Kabupaten Banjar roboh, tergerus banjir.

Di belahan Kalimantan Selatan yang jauh berbeda, jembatan yang menghubungkan Pelaihari dan Pabahanan di Tanah Laut juga tergerus banjir dan jalan ditutup.

Sebagian besar wilayah Kota Banjarbaru dikelilingi banjir, ratusan rumah tergenang air dengan ketinggian air yang bervariasi.

Wakil Wali Kota Darmawan Jaya Setiawan di Banjarbaru, Kamis mengatakan, banjir hampir merata di seluruh kota yang meliputi 20 kelurahan dan lima kelurahan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarbaru Zaini mengatakan, wilayah terparah yang terkena banjir adalah Kecamatan Cempaka dan Liang Anggang. Ribuan warga terimbas, sementara jalan di dua kecamatan itu tak bisa dilalui kendaraan.

Ia menuturkan, banjir juga menyebabkan seorang balita berusia 3 tahun di Landasan Ulin Utara tewas setelah memasuki saluran air tak jauh dari rumahnya.

Pemerintah Tapin berkoordinasi dengan perusahaan batu bara untuk membuka jalan alternatif, setelah bagian oprit Jembatan Astambul-Mataraman roboh.

Namun, Kepala Satuan Lalu Lintas Polsek Tapin Iptu Guntur Setyo Pambudi mengatakan masih banyak lubang di jalan alternatif yang melewati tambang batu bara.

“Jalan alternatif sedang diperbaiki. Saat ini koordinasi pengalihan arus lalu lintas masih dilakukan,” ujarnya kepada Antara.

Banjir Besar Kalimantan
Banjir Besar Kalimantan

Beberapa waktu kemudian, Kapolsek Banjar AKBP Andri Koko Prabowo di Martapura mengatakan, oprit jembatan sudah diperbaiki agar bisa dilalui kendaraan.

Dia mengatakan, perbaikan sementara dilakukan Balai Perbaikan Jalan Nasional (BPJN) Kalimantan Selatan dan Balai Sungai II Kalimantan.

Sementara itu, BPBD Tanah Laut mencatat sebanyak 5.753 rumah dan 19.871 warga terdampak banjir yang terjadi dalam sepekan terakhir.

“Dari sembilan kecamatan yang terdampak, Bati-Bati terparah dengan 2.218 rawa dan korbannya 7.731 orang,” kata Kapolsek Tanah Laut AKBP Cuncun Kurniadi di Pelaihari, Kamis.

Selain rumah warga, salah satu jembatan yang menghubungkan ibu kota Pelaihari dan Pabahanan terputus setelah tergerus banjir dan jalan ditutup.

Sebanyak 1.492 warga Kelurahan Raya Belanti, Kecamatan Binuang di Tapin, dievakuasi tim gabungan dari rumah mereka yang terendam.

“Saat ini evakuasi masih terus dilakukan,” kata Kepala BPBD Tapin Said Abdul Nasir, Kamis.

Mereka dievakuasi ke Musholla (tempat ibadah) Faturrahman dan rumah warga sekitar yang dianggap aman dari banjir.

“Kali ini ketinggian air sekitar 150 cm, tidak ada korban jiwa,” ucapnya.

Banjir terparah di provinsi tersebut terjadi di Barabai, Hulu Sungai Tengah (HST), dengan ketinggian air mencapai 2 meter.

Akibat hujan lebat sejak Rabu malam, sungai meluap dan menggenangi wilayah perkotaan dengan cepat.

“Masyarakat tidak menyangka akan separah ini, banyak yang terjebak banjir dan berusaha menyelamatkan diri dengan naik ke atap rumah,” kata Rizky, warga Barabai.

Relawan, TNI, dan aparat kepolisian kewalahan mengevakuasi warga. Banyak warga yang masih terjebak dan belum dievakuasi.

Banjir terparah dalam sejarah HST diperparah dengan pemadaman listrik di seluruh Barabai dan sekitarnya.

Air PDAM (keran) macet dan sinyal internet, seperti dari Telkomsel dan Indosat tidak bisa diakses, sehingga menyulitkan orang untuk berkomunikasi dan meminta bantuan.

“Sejak pukul delapan listrik mati, air ledeng mati, dan internet tidak berfungsi,” kata Jamal, warga Barabai.

Sedangkan di Kabupaten Tabalong banjir menyebar ke 11 kecamatan di wilayah tengah, selatan dan utara menyusul curah hujan yang tinggi dalam beberapa hari terakhir.

Di Balangan, sebanyak 13 desa di Kecamatan Tebing Tinggi dan Awayan juga dilanda banjir.

Kepala BPBD Balangan Hidup Yoesfah Cinta Lewat Kabag Gawat Darurat Muhammad Syuhada di Paringin mengatakan sekitar 1.154 rumah terendam.

Pemerintah Kabupaten Barito Kuala (Batola) menetapkan status tanggap darurat banjir sebagai tanggapan atas banjir hebat yang melanda enam kecamatan, yaitu Jejangkit, Mandastana, Kuripan, Tabukan, Bakumpai, dan Alalak.

Wakil Bupati H Rahmadian Noor langsung turun ke lapangan. Didampingi Panglima 1005 Komando Militer Marabahan Letkol. Lengan. Ari Priyudono dan Kapolsek Batola AKBP Lalu Mohammad Syahir Arif serta camat, mengunjungi kecamatan terparah, Jejangkit dan Mandastana.

“Sebenarnya banjir ini sudah berlangsung tujuh hari, tapi terparah sejak tadi malam (Rabu) akibat curah hujan yang tinggi,” kata salah seorang warga Jejangkit, Imberan.

Warga Mandastana, Rudi, mengatakan banjir ini terparah dalam 15 tahun terakhir.

Banjir Besar Kalimantan