Hidup, Bukanlah Sebuah Kompetisi

Hidup bukan Kompetisi

Lebih penting mana, benar-benar bahagia, atau hanya terlihat bahagia? Punya uang beneran, hatau hanya terlihat punya uang? Pinter beneran, atau terlihat pinter? Hebat beneran, atau hanya terlihat hebat?

Kebanyakan dari mereka yang bahagia beneran, punya uang beneran, pinter beneran, dan hebat beneran, itu sama sekali tidak butuh penilaian orang lain atas apa yang telah ia punya dan kehebatannya. Jikalau memang tidak penting, tahanlah diri untuk tidak menunjukannya pada dunia.

Damai dan nyamanlah dengan diri sendiri yang nyata, bukan sibuk mengenakan berbagai topeng hanya untuk disukai oleh dunia. Berbahagialah tanpa harus menjadi pusat perhatian ataupun sibuk mencari pengakuan.

Meningkatkan kualitas diri kita, karena memang kita ingin menjadi pribadi yang mandiri, bukan demi diakui oleh orang lain, bukan demi diakui oleh orang lain. Karena kehebatan tidak butuh pengakuan.

Kita tidak sedang bersaing dengan siapapun, hidup kita bukan untuk berkompetisi dengan orang-orang di sekitar kita. Kita tidak sedang berlomba dengan siapa-siapa, kita hanya berlomba dengan diri kita sendiri.

Hidup bukan Kompetisi
Hidup bukan Kompetisi

Mengapa kita begitu mudah menganggap hidup ini sebagai kompetisi? Kita mudah iri dengan orang lai. Tersinggung dengan kemenangan pihak lain.

Sebenarnya kompetitor dalam hidup kita adalah diri kita sendiri.

  • Kita berkompetisi dengan nafsu sendiri
  • Kita berkompetisi dengan kemalasan yang selalu datang kepada diri sendiri.
  • Kita berkompetisi dengan zona nyaman yang lebih membuat kita nyaman dalam satu titik, blum bisa berkembang dan maju.
  • Kita berkompetisi dengan mental kita, kadang rasa minder, gengsi dan kurang berani tumbuh begitu saja.
  • Kita berkompetisi dengan ego sendiri yang ingin hidup apa adanya, tanpa harus memberi berkontribusi dengan sesama.
  • Kita selalu berlomba dengan usia, yang setiap detik hilang tanpa kita rasa.

Kita yang sedang berkompettisi dengan diri sendiri. Apakah yang kita lakukan lebih baik dari masa lalu kita. Jangan-jangan seiring berkurangnya umur tetapi tidak ada peningkatan dalam diri kita sendiri.

Berdamailah dengan diri sendiri, nyamanlah dengan diri sendiri, nikmati dan syukuri apa yang kita punya, lupakan masalalu yang menyakiti, berdamailah dengan masa lalu, lihatlah masa depan yang sudah menanti kita.

Oleh : Anas Yusuf